Ternyata Mendengkur Bisa Jadi Pertanda Sleep Apnea Loh

Anda sering mendengkur dengan keras saat tidur? Sering mengalami hentu napas kemudian terengah-engah? Hati-hati bisa jadi anda terkena penyakit sleep apnea! Ternyata Mendengkur Bisa Jadi Pertanda Sleep Apnea Loh, yuk pahami lebih dalam berikut ini!!

Sleep Apnea atau apnea tidur adalah gangguan serius pada pernapasan yang terjadi saat tidur dimana saluran udara terhambat karena dinding tenggorokan yang mengendur dan menyempit. Ketika kita tidur, otot-otot tenggorokan bisa mengendur dan lemas. Dalam keadaan normal, kondisi ini tidak menggangu pernapasan. Akan tetapi pada penderita sleep apnea, otot menjadi terlalu lemas sehingga menyebabkan penyempitan atau hambatan pada saluran udara yang menggangu pernapasan.

Terdapat 2 macam gangguan pernapasan pada penderita sleep apnea, yaitu hipopnea dan apnea. Hipopnea terjadi ketiksa saluran udara menyusut hingga lebih dari 50% dan mengakibatkan napas menjadi pendek dan lambat. Hipopnea biasanya terjadi selama 10detik. Sedangkan apnea terjadi ketika saluran udara terhambat sekitar 10detik. Saat apnea, kadar oksigen dalam darah turun sehingga otak memerintahkan kita untuk bangun dna berusaha napas kembali. Sepanjang malam, penderita sleep apnea bisa mengalami apnea dan hipopnea secara berulang-ulang.

#Tahukah Anda?
Sleep apnea sangat umum terjadi. Biasanya terjado pada lebih banyak pria dibandingkan dengan wanita, sekitar 2-3 pria banding 1 wanita. Kondisi ini bisa terjadi pada pasien dengan usia berapapun, akan tetapi lebih banyak terjadi pada orang dewasa paruh baya. Sleep apnea bisa ditangani dengan mengurangi faktor-faktor resikonya.

Gejala Sleep Apnea


Berikut ini beberapa gejala yang dialami oleh penderita sleep apnea:

  • Depresi
  • Mudah marah
  • Pusing saat pagi hari
  • Mendengkur dengan keras
  • Mengantuk saat pagi hari
  • Bernapas dengan berat dan berisik
  • Berkeringan secara berlebihan di malam hari
  • Kesulitan tidur nyenyak di malam hari atau insomnia
  • Bangung dengan mulut kering atau tenggorokan serak
  • Penurunan gairan seksual atau disfungsi ereksi pada pria
    Sering mengalami henti napas dan kemudian terengah-engah.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan diatas. Disarankan untuk segera menemui dokter apabila anda mengalami beberapa gejala diatas, terutama jika gejala tersebut sudah mengganggu rutinitas sehari-hari.

#Kapan Saya Harus Memeriksakan Diri Ke Dokter?
Anda harus menghubungi dokter apabila anda mengalami gejala-gejala seperti:

  • Mendengkur dengan kencang yang menggangu tidur orang lain atau tidur anda sendiri
  • Sesak napas, terangah-engah atau tersedak yang membangunkan anda dari tidur
  • Ada jeda pada pernapasan saat tidur
  • Rasa kantuk pada siang hari yang berlebih
  • Lelah, mengantuk dan mudah marah.

Penyebab Sleep Apnea


Saat tidur, otot di belakang tenggorokan yang menopang jaringan lunak dari langit-langit (uvula), tonsil, dinding samping tenggorokan dan lidah, mengendur. Hal ini menyebabkan saluran udara menyempit atau tertutup saat kita menarik napas sehingga tidak cukup mendapatkan pasokan oksigen. Situasi tersebut dirasakan otak yang bereaksi membangunkan kita agar saluran udara kembali terbuka. Gangguan tidur obstruktif ini biasanya berlangsung sangat singkat dan berulang dalam satu jam. Sedangkan gangguan tidur lain atau apnea tidur sentral membuat kita tidak bisa bernapas sesaat pada waktu otak tidak mengirimkan sinyal ke otot pernapasan. Akibatnya kita merasa sulit untuk meneruskan tidur nyenyak atau terbangun dengan napas pendek.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan resiko anda mengalami sleep apnea diantaranya yaitu:

  • Jenis kelamin. Apnea tidur lebih cenderung pada pria
  • Mempunyai leher yang besar. Ukuran leher yang lebih besar dari 43cm lebih beresiko mengalami apnea tidur
  • Obesitas atau berat badan berlebihan. Adanya lemak berlebihan di jaringan lunak leher dan perut bisa menggangu anda dalam bernapas
  • Mengonsumsi obat penenang. Obat ini bisa membuat tenggorokan mengendur, contohnya obat bius dan obat tidur
  • Berusia 40 tahun keatas. Sleep Apnea lebih umum terjadi pada orang-orang di usia ini, meski bisa juga terjadi pada usia berapapun
  • Kelainan pada struktur leher bagian dalam. Misalnya amandel yang besar, saluran pernapasan kecil, rahang bawah kecil dan adenoid yang besar
  • Hidung tersumbat. Orang mengalami penyumbatan pada hidung lebih beresiko menderita sleep apnea misalnya karena polip dan kelainan struktur tulang hidung
  • Riwayat dalam keluarga. Jika terdapat keluarga anda yang mengalami sleep apnea, resiko anda menderita juga akan meningkat
  • Merokok. Merokok bisa meningkatkan resiko inflamasi dan penumpukan cairan di saluran pernapasan atas
  • Mengonsumsi minuman keras. Kebiasaan ini jika dilakukan sebelum tidur akan memperburuk sleep apnea dan juga dengkuran anda
  • Menopause pada wanita. Perubahan hormon selama menopause bisa membuat tenggorokan lebih mengendur dari biasanya sehingga resiko apnea tidur akan meningkat
  • Kondisi medis. Orang yang menderita gangguan jantung dan stroke beresiko mengalami apnea tidur sentral.

Komplikasi Sleep Apnea


Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi terutama pada penderita dengan gejala apnea tidur yang tidak bisa dikendalikan. Komplikasi tersebut bisa berupa:

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi. Komplikasi ini tidak menimbulkan gejala khusus, tapi meningkatkan resiko penderita untuk mengalami serangan jantung dan stroke. Hipertensi bisa diatasi dengan menjalani pola hidup yang sehat melalui olahraga secara rutin dan konsumsi makanan sehat
  • Diabetes tipe 2. Penderita sleep apnea cenderung mengalami resistensi insulin sehingga akhirnya menderita diabetes tipe 2
  • Gangguan hati. Hasil tes fungsi hati kerap menunjukkan kondisi yang tidak normal pada penderita sleep apnea
  • Sindrom metabolik. Komplikasi ini dipicu oleh faktor resiko yang terkait dengan penyakit jantung seperti kadar kolesterol tidak normal, kadar gula yang tinggi, serta tekanan darah tinggi
  • Kecelakaan. Orang dengan sleep apnea yang cukup parah bersiko mengalami kecelakaan saat beraktivitas di siang hari karena rasa kantuk akibat terganggunya waktu tidur di malam hari. Hal ini terutama bisa terjadi pada orang yang harus mengemudikan kendaraan dan mengoperasikan alat berat.

Diagnosis Sleep Apnea


Diagnosis sleep apnea bisa dimulai dengan menanyakan gejala yang dialami oleh penderita, pemeriksaan fisik termasuk tekanan darah, mengukur tinggi badan, berat badan dan leher serta pemeriksaan darah.

Apabila penyebab sleep apnea masih belum jelas, dokter bisa melakukan observasi tidur di malam hari pasien melalui tes yang disebut dengan polisomnografi. Dalam observasi ini, pola pernapasan, detak jantung dan kadar oksigen tubuh, tingkat kekerasan dengkuran dan beberapa bagian tubuh lain akan dimonitor secara seksama. Polisomnografi terdiri dari beberapa tes diantaranya:

  • Elektromiografi (EMG) untuk memeriksa dan merekam aktivitas sinyal otot
  • Elektroensefalografi (EEG) untuk mengamati gelombang otak
  • Elektrokoardiografi (ECG) untuk mengamati jantung
  • Rekaman gerakan otot dada dan perut
  • Rekaman aliran udara melalui mulit dan hidung
  • Rekaman detak jantung dan kadar oksigen dalam darah (pulse oximetry)
  • Rekaman suara dan video.

Selain observasi tidur di klinik, observasi ini juga bisa dilakukan di rumah dengan alat perekam untuk mengamati tidur pasien di rumah. Alat tersebut merekam kadar oksigen dalam darah, detak jantung, pola pernapasan dan aliran udara. Apabila pasien mengalami apnea tidur, hasil tes akan menunjukkan kadar oksigen yang rendah saat apnea namun kembali meningkat saat bangun.

Perawatan Sleep Apnea Di Rumah


Berikut ini merupakan gaya hidup dan beberapa pengobatan rumahan yang bisa membantu anda dalam mengatasi sleep apnea diantaranya yaitu:

  • Kurangi berat badan berlebih
  • Olahraga secara rutin dan teratur
  • Hindari alkohol dan obat-obatan tertentu seperti penenang dan pil tidur
  • Tidur pada sisi atau tengkurap dibandingkan dengan tidur telentang pada punggung
  • Jaga saluran nasal tetap terbuka saat malam hari
  • Berhenti merokok apabila anda perokok
  • Anda juga bisa mencoba melakukan 6 tips jitu mengatasi sleep apnea ala rumahan yang bisa anda lakukan sendiri dengan mudah di rumah.

Pengobatan Sleep Apnea


Pengobatan sleep apnea dilakukan berdasarkan kondisi dan tingkat keparahan yang dialami. Apabila sleep apnea yang dialami sudah masuk ke tingkat parah, maka diperlukan terapi dengan menggunakan beberapa alat diantaranya:

  • CPAP (Continous Positive Airway Pressure)

CPAP adalah alat untuk meniupkan udara bertekanan positif ke dalam hidung saja atau ke dalam hidung dan mulut. Udara bertekanan positif ini akan mencegah tenggorokan menutup dan meredakan gejala-gejala yang muncul akibat sleep apnea. Beberapa efek samping dari teknik pengobatan ini meliputi:

  1. Hidung tersumbat
  2. Hidung berair atau iritasi
  3. Sakit kepala
  4. Sakit telinga
  5. Sakit perut dan perut kembung
  6. Rasa tidak nyaman akibat pemakaian masker.
  • BiPAP (Bilevel Positive Airway Pressure)

Alat ini akan membuat tekanan udara saat menarik napas menjadi lebih tinggi, lalu tekanan tersebut diturunkan saat napas dikeluarkan. Tujuannya adalah untuk membantu penderita sleep apnea sentral yang mengalami pola pernapasan yang lemah.

  • MAD (Mandibular Advancement Device)

Alat ini didesain untuk menagan rahang dan lidah untuk mencegah penyempitan pada saluran pernapasan yang menyebabkan seseorang mendengkur. Alat ini dipakai diatas gigi saat penderita sedang tidur. Alat ini bisa digunakan bagi orang yang tidak bisa menggunakan alat CPAP, meski tidak dianjurkan untuk penderita apnea tidur yang parah.

  • ASV (Adaptive Servio-Ventrilation)

Alat yang terkomputerisasi ini merekam pola pernapasan dan bisa membuat pernapasan menjadi normal ketika tidur dengan memberi tekanan pada saluran udara.

  • Pemakaian Oksigen Tambahan

Berbagai alat yang bisa menyalurkan oksigen ke paru-paru sudah banyak tersedia. Penggunaan alat ini bisa membantu penderita apnea tidur, khususnya apnea tidur sentral.

  • Melakukan Operasi

Beberapa tindakan operasi yang biasa dilakukan diantaranya yaitu:

  1. Bedah Bariatric. Operasi pengecilan ukuran lambung yang dilakukan untuk orang obesitas
  2. Trakeostomi. Yaitu operasi dengan memasukkan pipa ke tenggorokan melalui leher agar penderita mudah bernapas, meski saluran udara terhalang
  3. Tonsilektomi. Yaitu operasi pengangkatan amandel ketika amandel terlalu besar dan menghalangi saluran pernapasan saat sedang tidur
  4. Implantasi langit-langit lunak. Yaitu operasi yang dilakukan dengan memasang langit-langit lunak buatan untuk mengurangi getaran dan gangguan dalam pernapasan saat tidur
  5. Adenoidektomi. Yaitu operasi pengangkatan adenoid ketika adenoid terlalu besar dan menghalangi saluran pernapasan ketika tidur
  6. Uvulopalatopharyngoplasty. Yaitu operasi pengangkatan jaringan di belakang mulut dan tenggorokan atas termasuk tonsil dan adenoid
  7. Prosedur Reposisi Rahang. Dalam operasi ini tulang rahang diposisikan lebih ke depan daripada tulang wajah untuk memperluas ruang di belakang lidah dan langit-langit lunak
  8. Prosedur lain untuk menghilangkan dengkur. Misalnya melalui operasi pengangkatan amandel atau polip hidung.
  • Mengonsumsi Obat Herbal

Anda juga bisa mencoba menggunakan obat herbal untuk mengobati Sleep Apnea. Obat herbal ini bisa anda gunakan apabila anda tidak cocok atau mempunyai alergi dengan obat-obatan kimia dan tidak ingin melalukan jalan operasi. Mengapa harus obat herbal? Karena obat herbal ini terbuat dari bahan yang alami sehingga akan sangat aman untuk dikonsumsi semua kalangan usia dari anak-anak hingga lanjut usia tanpa menimbulkan efek samping walaupun dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Obat herbal ini solusi yang tepat untuk pencegahan ataupun obat pendamping untuk membantu proses penyembuhan Sleep Apnea.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Don\'t Copy Paste!!