Penyakit Perikarditis

Perikarditis merupakan iritasi dan peradangan pada membran tipis berbentuk kantong yang melapisi jantung (perikardium). Perikardium terdiri dari 2 lapisan yang dipisahkan oleh ruang berisi sejumlah kecil cairan, sehingga kedua lapisan ini tidak saling bergesekan. Fungsi perikardium yaitu untuk menjaga letak jantung dan membantu kerja organ tersebut.

Kasus perikarditis seringkali ringan, sehingga bisa pulih hanya dengan istirahat dan pengobatan sederhana. Akan tetapi pada kasus yang lebih serius, keluhan bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa bulan.

Sekitar 5% pasien dengan keluhan nyeri dada disebabkan oleh perikarditis. Penyakit ini cenderung diderita oleh pria dan bsai terjadi pada segala usia. Akan tetapi, perikarditis paling banyak ditemukan terjadi pada usia 20-50 tahun.

Penyebab Perikarditis


Pada sekitar 90% kasus perikarditis, penyebabnya tidak bisa dipastikan. Akan tetapi ada beberapa hal yang biasanya diduga sebagai penyebab perikarditis diantaranya yaitu :

  • Radioterapi. Paparan radiasi dalam radioterapi khususnya pada terapi kanker payudara dan kanker paru bisa merusak jaringan perikardium
  • Virus. Seperti enterovirus (penyebab pilek atau meningitis), virus influenza, adenovirus (penyebab radang pneumonia dan bronkitis), cytomeglavirus, herpes simplex dan virus lainnya seperti HIV dan hepatitis C
  • Obat-obatan seperti penicilin atau beberapa obat kemoterapi
  • Infeksi bakteri. Seperti tuberculosis
  • Kelainan peradangan sistemik (systemic inflammatory disorder) antara lain lupus dan artritis reumatoid
  • Kanker dari bagian tubuh lain yang menyebar dan merusak jaringan perikardium
  • Cedera dada yang berat atau operasi jantung yang mencederai atau mengiritasi perikardium
  • Serangan jantung dimana jaringan otot yang rusak bisa mengiritasi perikardium.

Selain beberapa penyebab diatas, perikarditis juga bisa muncul beberapa minggu pasca serangan jantung atau operasi jantung. Perikarditis ini dikenal dengan nama Sindrom Dressler. Banyak ahli yang menduga sindrom tersebut disebabkan oleh reaksi autoimun, dimana terjadi gangguan pada respons pertahanan tubuh sehingga sel-sel radang menyerang jaringan tubuh sendiri, yang dalam hal ini adalah perikardium. Ketahui juga 6 penyebab perikarditis yang paling berbahaya dan harus diketahui sejak dini.

Gejala Perikardium


Gejala umum dari perikarditis merupakan nyeri dada yang tajam di belakang sternum atau tulang dada yang bisa menyebar ke bagian pundak dan leher. Beberapa orang mengalami nyeri serta pegal. Rasa sakit bisa memburuk dengan perubahan posisi atau napas yang dalam. Hal ini bisa dikurangi dengan duduk tegak.

Gejala yang sering dirasakan oleh penderita perikarditis diantaranya yaitu :

  • Batuk
  • Nyeri yang menusuk di tengah atau sisi kiri dada
  • Demam ringan
  • Napas pendek atau terengah-engah saat berbaring
  • Jantung berdebar
  • Bengkak pada kaki atau perut
  • Merasa lemah dan lelah.

Sesuai dengan lamanya gejala, penyakit ini digolongkan menjadi perikarditis akut, kronis dan berulang. Pada perikarditis akut, gejala berlangsung kurang dari 3 bulan. Seringkali gejalanya menyerupai gejala setelah flu dan bisa sembuh dalam waktu kurang lebih satu minggu dengan pemberian obat. Nyeri dada pada perikarditis akut bisa menjalar ke bahu kiri dan leher. Nyeri akan bertambah kuat pada saat batuk, menarik napas dalam atau berbaring dan akan berkurang pada posisi duduk atau condong ke depan.

Apabila perikarditis akut telah pulih akan tetapi muncul kembali, maka kasus itu disebut dengan perikarditis berulang (recurring pericarditis). Perikarditis berulang terjadi saat virus kembali aktif dan memicu proses peradangan pada perikardium. Hal ini bisa disebabkan oleh penggunaan steroid atau penurunan daya tahan tubuh. Terdapat 2 jenis perikarditis berulang. Yang pertama adalah incessant pericarditits, yaitu apabila gejala muncul kembali dalam waktu sekitar enam minggu setelah berhenti mengonsumsi obat. Dan yang kedua adalah intermitten pericarditis, yang ditandai dengan jeda waktu yang cukup lama (beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun) dimana penderita tidak mengalami gejala apapun sebelu, gejala ini muncul kembali.

Perikarditis Kronis apabila gejala menetap lebih dari 3bulan. Peradangan kronis tersebut bisa menyebabkan penimbunan cairan pada ruang pericardium. Keadaan ini disebut dengan efusi perikardium. Pada perikarditis kronis yang parah, bisa terjadi pembengkakan pada kaki dan perut serta hipotensi.

Komplikasi Perikarditis


Terdapat 2 komplikasi seius dari perikarditis diantaranya yaitu :

  • Perikarditis konstriktif. Peradangan perikardium yang berlangsung lama dan hilang-timbul akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut. Jaringan perut ini membuat perikardium menjadi kaku dan tidak bisa meregang dengan normal, sehingga menghalangi gerakan jantung dan menghambat fungsi jantung
  • Tamponade jantung (cardiac tamponade). Kondisi ini terjadi jika jumlah cairan di dalam kantong perikardium terlalu banyak sehingga menekan jantung dan menghalangi aliran darah ke jantung. Tamponade jantung bisa berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan segera.

Pengobatan Perikarditis


Tujuan pengobatan perikarditis yaitu untuk mengurangi rasa nyeri dan peradangan, mengatasi penyebab utama dan mencegah terjadinya komplikasi.

Selain dianjurkan untuk beristirahat, anda juga dianjurkan untuk melakukan beberapa pengobatan ini :

  • Mengkonsumsi Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDSs). Obat ini berfungsi untuk mengurangi peradangan preikardium dan menghilangkan rasa nyeri di dada. Obat yang biasa diberikan adalah ibufrofen dan aspirin
  • Mengkonsumsi Colchicine (Colcrys). Obat ini dikombinasikan dengan NSAIDs, atau diberikan sebagai alternatif pada kasus dmana NSAIDs tidak bisa diberikan atau pasien tidak responsif terhadap NSAIDs. Colchine mengurangi peradangan dengan cara membunuh sel radang tertentu dan bisa diberikan untuk perikarditis akut atau berulang untuk mengurangi lamanya gejala dan menurunkan resiko kekambuhan
  • Mengkonsumsi Kortikosteroid. Obat steroid ini umumnya hanya diberikan pada perikarditis tidak membaik dengan NSAIDs dan colchine, atau pada efusi perkardium yang bisa membahayakan jantung. Presnisone merupakan salah satu obat kortikosteroid yang biasanya diberikan. Kortikosteroid bisa menghambat respons imun tubuh sehingga proses peradangan berkurang
  • Menggunakan Antibiotik. Diberikan apabila perikarditis merupakan infeksi bakteri
  • Menggunakan obat herbal. Ini bisa anda pilih apabila anda mempunyai alergi obat kimia atau tidak cocok dengan obat-obatan kimia. Obat herbal ini terbuat dari bahan yang alami sehingga akan sangat aman untuk dikonsumsi tanpa menimbulkan efek samping.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Don\'t Copy Paste!!